BERITA MADRASAH

Belajar Kehidupan- Bagian 1

Dipublikasikan pada 01 December 2022 oleh Administrator

1048 Pembaca Kabar Terbaru
Beranda > Berita & Artikel > Belajar Kehidupan- Bagian 1
Belajar Kehidupan- Bagian 1
Berita 01 December 2022 Oleh: Administrator 1048 Pembaca

Belajar Kehidupan- Bagian 1

Oleh Novita Indah Pratiwi

 

“Terkadang orang terbutakan dengan titel pendidikannya yang membuatnya terjerumus dalam jurang kehancuran.”

 

Suatu sore dari kejauhan sana, saya mendengarkan sayup-sayup suara. Tepatnya suara seseorang dari sebuah telepon yang membuat saya belajar banyak hal dari dirinya, tentang kerasnya kehidupan. Ia menceritakan tentang kehidupannya sejak kecil yang kurang beruntung. Lahir dari keluarga miskin dan mempunyai lima saudara. Ia merupakan anak ke empat dari keluarga tersebut. Sesampainya di titik ceritanya, pada saat ia duduk di bangku sekolah SD, ada seorang guru bertanya kepadanya, “Apa cita-citamu nak?”. Ia hanya terdiam waktu itu. “Saya tak punya cita-cita karena saya tahu bapak-ibu saya miskin tak mungkin menyekolahkan saya, saudara saya banyak, dan kami tak punya apa-apa?”. Seorang anak yang masih duduk di bangku SD sudah punya pemikiran demikian. Sedangkan teman-temannya yang lain menjawab lantang tentang cita-cita mereka. Setelah lulus SD ia pun tak melanjutkan sekolah ke jenjang SMP. Kelima saudaranya sepakat untuk hanya menamatkan sekolah sampai jenjang SD saja. Karena mereka sadar bapak dan ibu mereka tidak mampu dan supaya tidak terjadi kesenjangan maka lulusan sekolah mereka harus sama yaitu SD. Kerasnya kehidupan memaksa ia, kakak, dan adiknya untuk bekerja saat usia mereka seharusnya masih mendapatkan pendidikan yang layak. Ia pun berkelana ke Jakarta saat usianya 14 tahun. Membawa uang saku 50 ribu saja. Sesampainya di sana, ia bekerja sebagai kuli bangunan. Selain itu juga menjual baju di pinggir jalan. Sampai di titik ia mendapatkan pekerjaan yang layak di sebuah pabrik konveksi. “Walaupun saya hanya lulusan SD tapi otak dan pemikiran saya tidak boleh kalah dengan orang lulusan perguruan tinggi”, tegasnya. Buktinya singkat cerita dari gaji yang sebulan hanya 300 ribu, sekarang gajinya mencapai angka 12 juta. Kunci yang dia titipkan kepada saya, di manapun kamu berada jangan melupakan dua hal yaitu belajar (dari apapun, karena belajar tidak hanya dari buku tapi juga bisa dari kisah orang lain) dan berusahalah menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain.

Saya pun belajar dari kisah tersebut. Bahwa di luar sana, sangat banyak orang yang kurang beruntung. Orang yang harus bergelut dengan kerasnya kehidupan ini. Menanggung beban bukan hanya beban dirinya, tapi harus juga membantu ekonomi keluarga. Sehingga mau atau tidak harus tumbuh dewasa sebelum waktunya. Saya tidak hanya memberikan contoh bahwa lulusan SD juga bisa sukses, tapi titik berat yang ingin saya sampaikan adalah BEKERJA KERASLAH dan JANGAN MEREMEHKAN ORANG LAIN. Pendidikan sangatlah penting. Pendidikan adalah investasi masa depan. Tapi kita juga perlu melihat bahwa tidak semua orang yang berpindidikan tinggi sepadan dengan apa yang ia lakukan. Terkadang orang terbutakan dengan titel pendidikannya yang membuatnya terjerumus dalam jurang kehancuran. Misalkan kita melihat bahwa beberapa petinggi yang terjerat kasus korupsi berasal dari golongan berpendidikan tinggi. Maka, kita pun perlu membuka cakrawala pemikiran bahwa banyak pula orang yang punya potensi bagus dalam hal pemikirannya tapi karena terhalang tidak punya titel pendidikan--karena masalah ekonomi yang membuatnya tidak bisa mengenyam pendidikan tinggi-- sehingga ia diremehkan.

Kehidupan ini pada hakekatnya adalah belajar. Allah menyuruh umatnya untuk terus belajar. Ilmu kehidupan tidak hanya cukup dari sebuah teori tapi juga berasal dari kepekaan kita terhadap sekitar. Kecerdasan intelektual perlu untuk diasah diiringi dengan pembangunan akhlak yang baik. Sehingga seimbanglah kita menjadi insan yang kamil. Terus berproseslah, anak-anak MA Salafiyah Kajen. Sampai ketemu pada tulisan selanjutnya ya. Semoga bermanfaat.

 

Penulis:

Novita Indah Pratiwi, M.Si.

Guru MA Salafiyah, Kontributor Bincangmuslimah.com

Bagikan Artikel: