Menghadapi karakter peserta didik dari generasi Z dan generasi Alpha, guru dituntut untuk terus beradaptasi dalam menghadirkan pembelajaran yang menarik, kreatif, dan sesuai dengan kebutuhan siswa.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam workshop bertema “Menjadi Pendidik Adaptif: Inovasi Pembelajaran Digital dan Strategi Pengelolaan Kelas Responsif untuk Generasi Z” yang digelar di Aula MA Salafiyah Kajen, Selasa (15/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung pukul 09.30 hingga 13.00 WIB tersebut menghadirkan Dr. Rr. Sri Sukarni Katamwatiningsih, M.Pd. sebagai pemateri. Workshop diikuti oleh sebanyak 94 guru MA Salafiyah Kajen.
Kepala MA Salafiyah Kajen, bapak Muchammad Azib Mabrur, S.Ag, M.Pd. dalam sambutannya mengatakan, kegiatan tersebut berangkat dari aspirasi para siswa yang menginginkan adanya peningkatan dalam proses pembelajaran di kelas.
Menurutnya, pembelajaran yang baik diharapkan mampu membuat ilmu yang diterima siswa dapat terserap secara lebih optimal.
“Acara ini berangkat dari aspirasi siswa untuk meningkatkan nilai proses belajar mengajar di kelas, sehingga ilmu yang mereka serap bisa lebih optimal,” ujar Azib.
Ia menambahkan, karakter peserta didik saat ini sudah mengalami perubahan. Guru tidak lagi hanya berhadapan dengan pola belajar generasi sebelumnya, tetapi juga dengan anak-anak yang tumbuh sebagai generasi Z dan generasi Alpha.
Karena itu, Pak Azib berharap workshop tersebut dapat menjadi ikhtiar bersama untuk mendorong guru menghadirkan berbagai terobosan baru dalam metode pembelajaran.
“Harapannya, dengan ikhtiar ini guru-guru mempunyai terobosan baru tentang metode pembelajaran di zaman generasi Z dan generasi Alpha,” harapnya.

Sementara itu, Dr. Rr. Sri Sukarni Katamwatiningsih menekankan pentingnya pembelajaran yang berdiferensiasi dalam menghadapi karakter peserta didik saat ini.
Menurutnya, pembelajaran berdiferensiasi merupakan pendekatan pengajaran yang menyesuaikan metode, materi, maupun penilaian dengan kebutuhan dan potensi unik masing-masing peserta didik.
“Metode pembelajaran anak-anak Gen Z dan Gen Alpha harus berdiferensiasi,” jelasnya.
Beliau pun membagikan sejumlah contoh sederhana yang dapat diterapkan guru di kelas. Berdasarkan pengalamannya sebagai guru fisika pada 1994 hingga 2006, pembelajaran akan lebih mudah diterima siswa ketika mereka tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga terlibat secara langsung dalam praktik.
Sebagai contoh, ketika mengajarkan materi tentang kecepatan, guru dapat membawa mobil mainan ke dalam kelas dan mengajak siswa melakukan praktik secara langsung.
Dengan cara tersebut, siswa tidak hanya menerima konsep secara teoritis, tetapi juga dapat melihat dan mengalami sendiri proses pembelajaran.
“Anak-anak akan lebih semangat dalam belajar ketika mereka dilibatkan secara langsung,” ungkapnya.

Selain praktik sederhana, Pemateri juga mendorong guru memanfaatkan simulasi dalam pembelajaran. Materi kimia, biologi, hingga matematika, misalnya, dapat dikemas dalam bentuk simulasi agar konsep yang dianggap sulit menjadi lebih mudah dipahami.
Sementara untuk mata pelajaran sejarah Indonesia maupun bahasa Indonesia, guru dapat menggunakan metode bermain peran atau role play. Dengan demikian, siswa dapat terlibat aktif sekaligus memperoleh pengalaman belajar yang lebih berkesan.
Tidak kalah penting, beliau mengingatkan guru untuk mengoptimalkan fasilitas teknologi yang telah tersedia di sekolah, salah satunya televisi yang dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran.
Guru, kata dia, dapat menggunakan video pembelajaran, simulasi, kanal YouTube, maupun berbagai platform digital lainnya untuk memperkaya proses belajar mengajar.
Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi pelengkap pembelajaran, tetapi benar-benar digunakan untuk menciptakan suasana kelas yang lebih interaktif dan responsif terhadap karakter peserta didik.

Workshop tersebut menjadi momentum bagi para guru MA Salafiyah Kajen untuk merefleksikan kembali pola pembelajaran di kelas sekaligus mencari berbagai inovasi yang dapat diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari.
Dengan pembelajaran yang adaptif, kreatif, dan memanfaatkan teknologi secara tepat, guru diharapkan mampu menjawab tantangan pendidikan di tengah perubahan karakter generasi peserta didik. (AK.81 – Nov)
