BERITA MADRASAH

Guru BK dan Wali Kelas MA Salafiyah Kajen Didorong Bersinergi Kawal Minat dan Bakat Siswa

Dipublikasikan pada 10 August 2026 oleh Administrator

413 Pembaca Kabar Terbaru
Beranda > Berita & Artikel > Guru BK dan Wali Kelas MA Salafiyah...
Guru BK dan Wali Kelas MA Salafiyah Kajen Didorong Bersinergi Kawal Minat dan Bakat Siswa
Berita 10 August 2026 Oleh: Administrator 413 Pembaca

Guru BK dan Wali Kelas MA Salafiyah Kajen Didorong Bersinergi Kawal Minat dan Bakat Siswa

Guru Bimbingan dan Konseling (BK) bersama wali kelas MA Salafiyah Kajen Pati didorong untuk memperkuat sinergi dalam mengenali, mengembangkan, sekaligus mengawal minat dan bakat peserta didik. Upaya tersebut dinilai penting agar siswa mampu menentukan langkah pendidikan dan karier secara tepat menuju masa depan.

Hal itu mengemuka dalam workshop bertajuk “Kolaborasi Guru BK dan Wali Kelas dalam Penguatan Minat Bakat Siswa Menuju Masa Depan” yang digelar di Aula MA Salafiyah Kajen Pati, Minggu (9/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung pukul 09.30 hingga 13.00 WIB tersebut menghadirkan praktisi pendidikan dari Semarang, Beta Nur Bety Tsany, S.Pd., M.Pd., sebagai pemateri. Peserta workshop terdiri atas guru BK dan seluruh wali kelas X, XI, dan XII MA Salafiyah Kajen.

Kepala MA Salafiyah Kajen, Muchammad Azib Mabrur, S.Ag., M.Pd., dalam sambutannya mengatakan, kegiatan tersebut bukan semata-mata untuk memberikan arahan kepada para guru, tetapi menjadi ruang bersama untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas pendidikan di madrasah.

“Tidak bermaksud untuk menggurui. Kita mau belajar. Mau belajar itu berarti termasuk orang bijak,” ujarnya.

Menurut Pak Azib, peningkatan kompetensi guru menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kualitas madrasah. Terlebih, wali kelas dan guru BK memiliki posisi strategis dalam mendampingi perjalanan peserta didik, termasuk dalam menentukan pilihan pendidikan lanjutan.

Beliau berharap guru BK dan wali kelas dapat mengawal siswa secara lebih intensif, terutama dalam mempersiapkan jalur pendidikan lanjutan seperti Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) maupun jalur lainnya.

Pak Azib juga menekankan pentingnya pendekatan yang humanis dalam mendampingi siswa. Menurutnya, peserta didik tidak cukup hanya diarahkan secara akademik, tetapi juga perlu diayomi dan dipahami sesuai karakter, potensi, serta kondisi masing-masing.

“Sebagai pendidik kita harus mengawal anak-anak dengan lebih humanis. Mau tidak mau kita dituntut untuk mengayomi dan mengawal anak-anak dengan baik,” tuturnya

Sementara itu, Ibu Beta Nur Bety Tsany mengawali pemaparannya dengan ice breaking yang membuat suasana workshop berlangsung lebih cair dan interaktif. Ia kemudian mengajak para guru melihat kembali posisi strategis seorang pendidik dalam perkembangan peserta didik.

Menurutnya, guru bukan hanya penyampai materi pembelajaran. Setiap sikap dan perilaku guru dapat menjadi contoh yang ditiru oleh siswa.

“Guru itu digugu dan ditiru. Apa yang kita lakukan juga akan berimbas dan tersalur kepada anak-anak,” jelasnya.

Karena itu, guru dituntut untuk terus belajar. Semangat guru dalam meningkatkan kompetensi, menurutnya, akan ikut menumbuhkan semangat belajar pada peserta didik.

Dalam pemaparannya, bu Beta juga menjelaskan bahwa tugas membimbing peserta didik bukan hanya menjadi tanggung jawab guru BK. Seluruh guru memiliki peran sebagai pembimbing sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya.

Beliau mengaitkan hal tersebut dengan ketentuan beban kerja guru madrasah yang mencakup perencanaan pembelajaran atau kegiatan pembimbingan, pelaksanaan pembelajaran atau pembimbingan, penilaian hasil pembelajaran, serta kegiatan pembimbingan peserta didik.

Bu Beta menjelaskan, salah satu tugas penting guru dalam mendampingi siswa adalah memahami perbedaan antara bakat dan minat.

Bakat merupakan potensi bawaan yang masih dapat berkembang apabila dikenali dan diasah. Sementara minat adalah ketertarikan kuat terhadap sesuatu yang mendorong seseorang untuk melakukan tindakan.

“Bakat itu potensi bawaan yang tertidur jika tidak dibangunkan. Sedangkan minat adalah ketertarikan kuat yang mendorong seseorang untuk bertindak,” jelasnya.

Dalam konteks tersebut, guru BK memiliki sejumlah peran, mulai dari melakukan asesmen bakat dan minat melalui metode testing maupun non-testing, memberikan layanan bimbingan dan konseling, layanan klasikal, kolaborasi, hingga membantu siswa mempersiapkan pilihan setelah lulus, baik melanjutkan studi, bekerja maupun mengikuti kursus.

Di sisi lain, wali kelas juga memiliki peran penting karena menjadi guru yang secara khusus mendampingi perkembangan akademik, karakter, dan potensi peserta didik secara intensif dan berkelanjutan sejak awal hingga siswa menyelesaikan pendidikan.

Wali kelas dapat memantau perkembangan nilai dan grafik akademik siswa, mencermati catatan keseharian, serta membangun komunikasi dengan guru mata pelajaran dan pihak lain yang berkaitan dengan perkembangan peserta didik.

Menurutnya, kolaborasi antara guru BK, wali kelas, dan guru mata pelajaran menjadi kunci agar pendampingan siswa tidak berjalan sendiri-sendiri.

Dengan kolaborasi tersebut, guru dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai diri siswa, kebiasaan belajar, perkembangan nilai mata pelajaran, serta potensi dan kendala yang dihadapi.

Sejumlah hambatan yang perlu diperhatikan antara lain kondisi ekonomi keluarga, faktor kesehatan, keterbatasan informasi, hingga persoalan dalam menentukan pilihan mata pelajaran dan pendidikan lanjutan.

Dalam konteks persiapan pendidikan lanjutan, guru juga perlu membantu siswa memahami modal akademiknya. Salah satunya berkaitan dengan pemilihan mata pelajaran Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang perlu mempertimbangkan rekam nilai rapor.

“TKA itu fungsinya sebagai validasi rapor. Banyak anak yang gagal dalam seleksi karena tidak melihat modal nilainya,” paparnya.

Workshop juga membahas pendekatan dalam menangani perilaku peserta didik. Beta menyampaikan bahwa sistem poin yang selama ini dikenal tidak lagi menjadi satu-satunya pendekatan dalam penanganan kedisiplinan. Sebagai gantinya, guru dapat menerapkan konsekuensi yang logis dan mendidik.

Melalui kegiatan tersebut, MA Salafiyah Kajen berharap sinergi antara guru BK dan wali kelas semakin kuat. Dengan pendampingan yang lebih terarah, humanis, dan berbasis pemahaman terhadap potensi siswa, setiap peserta didik diharapkan mampu menemukan jalannya sendiri untuk tumbuh, berkembang, dan menatap masa depan dengan lebih percaya diri. (AK.81-Nov)

Bagikan Artikel: