Oleh Muhammad Afriza,
Kelas XI C
Saya masih ingat betul statemen Islah Bahrawi alias Cak Islah, Direktur Ekeskutif Jaringan Moderasi Beragama, ia mengatakan bahwa kepentingan politik dengan narasi agama bisa menghipnotis orang agar terpecah belah dan memusuhi satu sama lain. Konflik-konflik yang terjadi di belahan barat (timur tengah) seperti yang terjadi di Irak, Syiria, Somalia, dan lain-lain meletus didasari oleh politisasi agama, pun yang terjadi di negara kita beberapa tahun terakhir—meski tak sampai seperti yang terjadi di belahan dunia sana--sentimen-sentimen agama menjadi bumbu-bumbu yang pedas dan nyaris memicu pertikaian fisik.
Melihat situasi sekacau dan serawan itu, PBNU sepertinya tidak ingin mendiamkan atau kecolongan, sehingga Gus Yahya dengan menggandeng Liga Muslim Dunia menggagas R20 atau Religion of Twenty 2022 yang merupakan engagement group dari G20. Tak main-main, pertemuan ini mencakup para pemimpin agama-agama dan sekte-sekte dengan peserta utama dari negara-negara anggota G20, yakni 464 undangan dan sebanyak 170 di antaranya dari luar negeri yang berasal dari lima benua. Narasumber yang dihadirkan berjumlah 40 orang yang juga dari lima benua.
R20 mendorong para pemimpin dan pemuka agama global untuk memastikan bahwa agama berfungsi sebagai solusi yang sejati dan dinamis, bukan sebagai sumber masalah, di abad ke-21. Setidaknya ada dua pembahasan utama yang didiskusikan tokoh-tokoh agama yang hadir. Pertama, potensi konflik yang muncul akibat pemahaman ekstrem yang dipahami oleh penganut agama-agama. Ada kelompok tertentu yang memang dalam penafsiran agamanya keras, tidak ada toleransi bagi kelompok di luar kelompoknya, kaku, atau pekok. Kita ambil contoh ISIS atau pertempuran kelompok di Somalia. Kedua, tawaran nilai luhur dari agama sebagai bagian dari ekonomi dan politik global. Agama meliputi segala hal, maksutnya, agama dapat menjangkau segala jenis permasalahan di dunia termasuk ekonomi dan politik. Politik tanpa melibatkan nilai agama akan kering dan tidak memiliki ruh, ekonomi tanpa agama akan menjadi mesin gilas.
Sebagai counter, R20 menjadi seruan penegasan bahwa kehidupan yang harmonis hanya dapat dicapai dengan meningkatkan kebersamaan dalam masyarakat. Meminjam istilah Cak Islah, ini adalah konsep dasar Islam yang berbasis middle path, garis tengah, tidak kanan maupun kiri. Tapi kita betul-betul dalam asas kebangsaan yang berkonsep al-ashabiyah atau kesepakatan.
Nah, dengan diadakannya acara R20 ini, kita harap bisa menjadi inspirasi spiritual dan solusi bagi permasalahan dunia, sebab saat ini di beberapa wilayah seperti India, Afrika Barat, Asia Tenggara konflik masih berakar pada agama. Oleh karena itu, dengan diadakannya acara R20 ini, kesepakatan bersama di antara pemimpin agama untuk menjadikan agama sebagai solusi bagi berbagai masalah global di berbagai bidang salah satunya adalah pluralisme, politik, ekonomi dan yang lainnya dapat terealisasikan.
Referensi:
https://jambi.antaranews.com/berita/510797/r20-bertujuan-membuat-agama-menjadi-solusi-masalah.
https://www.nu.or.id/opini/r20-perubahan-global-dan-transformasi-agama-Zr9Eu.
Penulis:

Muhammad Afriza,
Kelas XI C, Jurnalis MASalafiyah
