BERITA MADRASAH

Menapaki Jalan Pengabdian: Dari Hafalan Al-Qur’an ke Dunia Kedokteran

Dipublikasikan pada 20 April 2026 oleh Administrator

1045 Pembaca Kabar Terbaru
Beranda > Berita & Artikel > Menapaki Jalan Pengabdian: Dari Haf...
Menapaki Jalan Pengabdian: Dari Hafalan Al-Qur’an ke Dunia Kedokteran
Berita 20 April 2026 Oleh: Administrator 1045 Pembaca

Menapaki Jalan Pengabdian: Dari Hafalan Al-Qur’an ke Dunia Kedokteran

Langkah hidup setiap orang sering kali dipandu oleh mimpi, nilai, dan doa orang tua. Bagi Shaloom Syahra Zahdy, siswi kelas XII MIPA Reguler MA Salafiyah Kajen, pilihan untuk melanjutkan studi ke jurusan kedokteran bukan sekadar ambisi pribadi, melainkan panggilan hati yang tumbuh dari keyakinan dan harapan keluarga.

Sejak awal, Syahra meyakini bahwa kedokteran adalah salah satu bidang yang selaras dengan perannya sebagai penghafal Al-Qur’an. Baginya, ilmu agama dan ilmu kesehatan dapat berjalan beriringan, membentuk pribadi yang tidak hanya berilmu, tetapi juga bermanfaat bagi sesama. Di balik pilihan tersebut, tersimpan pesan sederhana namun mendalam dari kedua orang tuanya untuk menjadi pribadi yang berguna, khususnya dalam membantu mereka yang membutuhkan, tanpa mengharap imbalan selain doa.

“Jangan pernah berharap imbalan uang dari mereka, mintalah imbalan doa saja,” pesan itu terus terpatri, menjadi kompas dalam setiap langkah yang ia ambil.

Perjalanan menuju cita-cita itu pun tidak instan. Sejak kelas XI, Syahra telah mempersiapkan diri dengan mengikuti bimbingan belajar khusus kedokteran guna menghadapi tes SNBT. Namun, di tengah proses tersebut, datang peluang tak terduga. Sang ibu mendapatkan informasi mengenai jalur prestasi Fakultas Kedokteran di Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA).

Momentum awal Ramadan 2026 menjadi titik penting. Dengan dukungan pihak kesiswaan MA Salafiyah, Syahra bersama orang tuanya mantap mendaftarkan diri. Persaingan yang ketat dengan sekitar 850 pendaftar dan hanya 35 kursi tersedia, hal itu tidak menyurutkan langkahnya. Hingga akhirnya, kabar bahagia itu datang, Syahra dinyatakan lolos sebagai salah satu yang terpilih.

Capaian tersebut bukan hanya hasil dari usaha pribadi, tetapi juga buah dari doa, dukungan, dan bimbingan banyak pihak. Ia pun tak lupa berbagi pesan kepada adik-adik kelasnya di MA Salafiyah yang tengah merajut mimpi.

“Kejar mimpi dan wujudkan cita-citamu. Tidak ada yang tidak mungkin selama kita terus berusaha,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya menghormati guru, sebagai sosok yang berperan besar dalam membentuk karakter dan membuka jalan menuju masa depan.

Bagi Syahra, MA Salafiyah bukan sekadar tempat belajar, melainkan rumah kedua yang penuh kenangan. Di sanalah ia tidak hanya memperoleh ilmu, tetapi juga dukungan atas minat dan cita-citanya, serta kasih sayang yang membuatnya merasa betah.

“Saya tidak akan pernah melupakan almamater ini. Doa saya akan selalu menyertai para guru yang telah membimbing saya hingga bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan meraih cita-cita,” tuturnya putri Ahmadi dan Dian Uftika dengan haru.

Kisah Syahra menjadi pengingat bahwa kesuksesan tidak hanya diukur dari pencapaian, tetapi juga dari niat untuk memberi manfaat. Dari hafalan Al-Qur’an menuju dunia kedokteran, ia tengah menapaki jalan pengabdian mewujudkan mimpi, sekaligus amanah. (AK.81)

Bagikan Artikel: