BERITA MADRASAH

Merawat Akar di Tengah Rimba Teknologi

Dipublikasikan pada 08 August 2026 oleh Administrator

130 Pembaca Kabar Terbaru
Beranda > Berita & Artikel > Merawat Akar di Tengah Rimba Teknol...
Merawat Akar di Tengah Rimba Teknologi
Berita 08 August 2026 Oleh: Administrator 130 Pembaca

Merawat Akar di Tengah Rimba Teknologi

Perkembangan teknologi yang melaju begitu cepat telah mengubah hampir seluruh sendi kehidupan manusia. Berbagai kemudahan hadir dalam genggaman, memungkinkan orang memenuhi kebutuhan dengan lebih cepat, praktis, dan efisien. Apa yang dahulu memerlukan waktu panjang, kini dapat diselesaikan hanya dalam hitungan detik.

Perubahan yang demikian pesat membuat masyarakat seolah berlomba mengikuti arus zaman. Beragam perangkat modern, mulai dari alat komunikasi, media informasi, hingga sarana transportasi, menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kepemilikan teknologi pun diiringi dengan kemampuan menggunakannya, melintasi batas usia, profesi, maupun status sosial.

Namun, di balik kemudahan itu tersimpan sebuah kegelisahan. Kemajuan teknologi ternyata tidak selalu berjalan seiring dengan pertumbuhan mentalitas penggunanya. Kita begitu cepat menguasai alat, tetapi sering kali lambat membangun karakter. Teknologi memudahkan banyak hal, tetapi tanpa disadari juga dapat memanjakan manusia hingga perlahan melupakan pondasi-pondasi dasar kehidupan.

Gejala ini tampak paling jelas pada generasi usia sekolah. Mereka tumbuh sebagai generasi yang akrab dengan layar dan jaringan digital, tetapi tidak semuanya dibekali ketangguhan menghadapi proses. Budaya serba instan membentuk kebiasaan mencari jalan tercepat, sementara kesabaran, ketekunan, dan daya juang semakin jarang dilatih. Akibatnya, ketika berhadapan dengan persoalan yang menuntut proses panjang, tidak sedikit yang mudah menyerah atau memilih jalan pintas.

Jika keadaan ini terus berlangsung, ancaman jangka panjang bukan sekadar rendahnya kemampuan akademik, melainkan lahirnya generasi yang rapuh dalam menghadapi tantangan hidup. Mereka memiliki akses informasi yang luas, tetapi miskin daya tahan berpikir dan keteguhan dalam berproses.

Salah satu akar persoalan tersebut adalah lemahnya budaya literasi, terutama literasi baca-tulis. Membaca bukan sekadar aktivitas mengenali huruf, melainkan proses memperluas cara pandang, mempertajam nalar, dan memperkaya imajinasi. Sementara menulis adalah latihan merawat pikiran, menyusun gagasan secara runtut, sekaligus membangun keberanian menyampaikan kebenaran dengan jujur.

Sayangnya, di tengah derasnya arus informasi digital, membaca sering tergeser oleh kebiasaan menggulir layar tanpa benar-benar memahami isi. Menulis pun kian ditinggalkan karena lebih mudah mengutip daripada mengolah gagasan sendiri. Padahal, kemampuan berpikir kritis justru tumbuh dari perjumpaan yang tekun dengan bacaan dan dari keberanian menuangkan pikiran melalui tulisan.

Karena itu, di tengah kemajuan teknologi yang tak mungkin dibendung, cara-cara sederhana tidak boleh ditinggalkan. Mengajak generasi muda mencintai buku, membiasakan membaca, dan berani menulis dengan jujur bukanlah langkah mundur, melainkan ikhtiar untuk menjaga akar kemanusiaan. Teknologi dapat menjadi kendaraan yang membawa peradaban melaju lebih cepat, tetapi literasilah yang akan menentukan ke mana arah perjalanan itu bermuara. Sebab, bangsa yang besar bukan hanya ditopang oleh kecanggihan teknologi, melainkan juga oleh manusia yang mampu berpikir jernih, membaca dengan kritis, dan menulis dengan hati yang jujur.

 

Penulis:

Arif Sutoyo, SH (Arifk Khilwa)

Guru Mapel Sosiologi dan Wakil Kepala bidang Humas MA Salafiyah Kajen Pati

Bagikan Artikel: