BERITA MADRASAH

Perjalanan Menuju Negeri Kinanah: Kisah Fatimah Nur Az Zahra Lolos ke Al-Azhar

Dipublikasikan pada 30 April 2026 oleh Administrator

1020 Pembaca Kabar Terbaru
Beranda > Berita & Artikel > Perjalanan Menuju Negeri Kinanah: K...
Perjalanan Menuju Negeri Kinanah: Kisah Fatimah Nur Az Zahra Lolos ke Al-Azhar
Berita 30 April 2026 Oleh: Administrator 1020 Pembaca

Perjalanan Menuju Negeri Kinanah: Kisah Fatimah Nur Az Zahra Lolos ke Al-Azhar

Perjalanan meraih pendidikan tinggi di luar negeri bukanlah hal mudah. Namun, tekad kuat dan kesungguhan belajar mengantarkan Fatimah Nur Az Zahra, siswi asal Todanan, Blora, diterima Fakultas Syariah Islamiyah Wal Qonun, Jurusan Syariah Islamiyyah di Universitas Al-Azhar, Mesir, salah satu perguruan tinggi Islam tertua di dunia.

Zahra, putri dari pasangan Mulyono dan Rini, saat ini tercatat sebagai siswi kelas XII Konsentrasi Kitab di MA Salafiyah Kajen, Pati. Sejak awal, ia telah memiliki tekad kuat untuk melanjutkan studi ke Negeri Kinanah demi memperdalam ilmu agama.

“Al-Azhar menjadi pilihan karena merupakan pusat keilmuan Islam yang memiliki sanad keilmuan yang tersambung hingga Rasulullah SAW. Saya ingin memperdalam ilmu agama secara matang dan menjadi bagian dari rantai keilmuan tersebut,” ujarnya.

Ia menambahkan, tantangan umat saat ini tidak cukup dijawab dengan semangat semata, melainkan membutuhkan pemahaman mendalam terhadap ilmu syariat. Dengan bekal tersebut, ia berharap dapat kembali ke tanah air untuk mengabdi kepada masyarakat.

Perjalanan Zahra menuju Al-Azhar tidaklah instan. Ia mengaku sempat kebingungan mengenai materi dan prosedur seleksi. Setelah berdiskusi dengan pengasuh pondok dan guru di madrasah, ia mencari tambahan informasi melalui media sosial dan memutuskan mengikuti bimbingan belajar daring.

Selama tiga bulan, Zahra mengikuti program bimbingan setiap Senin hingga Jumat malam, di tengah kesibukannya sebagai santri dan pelajar. Ia bahkan harus mengatur ulang jadwal kegiatan pondok demi fokus pada persiapan ujian.

“Awalnya saya merasa tertinggal karena banyak peserta lain sudah menguasai materi. Namun hal itu justru memotivasi saya untuk belajar lebih giat,” katanya.

Ujian seleksi yang dihadapi pun cukup kompleks, mulai dari tes berbasis komputer yang mencakup empat keterampilan bahasa Arab, ujian menulis (insya’), hingga wawancara dan tes hafalan Al-Qur’an.

“Alhamdulillah, dengan izin Allah, saya bisa melalui semua tahapan hingga akhirnya dinyatakan lulus,” ujarnya dengan rasa syukur.

Zahra juga menekankan pentingnya peran MA Salafiyah dalam perjalanan akademiknya. Menurutnya, madrasah tersebut tidak hanya memberikan pendidikan akademik, tetapi juga membentuk karakter dan spiritualitas.

“MA Salafiyah membimbing saya dari kebingungan hingga menemukan arah. Para guru sangat mendukung, bahkan membantu mencarikan informasi untuk saya,” ungkapnya.

Ia mengaku telah menempuh pendidikan di lingkungan Salafiyah sejak jenjang MTs dan bahkan pernah menerima beasiswa kitab selama empat tahun. Pengalaman tersebut menjadi fondasi kuat dalam perjalanan menuntut ilmu.

“Saya sangat bersyukur menjadi bagian dari keluarga besar Salafiyah. Tanpa didikan di sini, saya mungkin tidak akan sampai di titik ini,” katanya.

Ke depan, Zahra berharap dapat menimba ilmu sebanyak mungkin di Al-Azhar dan kembali ke Indonesia untuk memberikan kontribusi nyata bagi umat. (AK.81)

Bagikan Artikel: