Oleh Kholimatus Sa'adah Tri Sayekti
kelas XI J
Banyak dari Kalian tentunya sudah sering kali menjumpai peserta didik yang tebar pesona (tepe-tepe) di depan kelas. Apa jangan-jangan, Kalian sendiri yang melakukannya? hehe. Suatu ketika, Saya pernah mendengar semacam selogan yang menurutku itu tidak etis, slogan itu kurang lebih begini:
Tepe-tepe di depan kelas itu harus, kalau belum tepe-tepe ya belum afdhol, karena hal itu bisa membuat kita semangat untuk menjalani hidup yang rumit.
Ealah... padahal menurut saya itu hanya alibi belaka. Hal tersebut kurang mbois/pantas, apalagi sekolah kita mengutamakan nilai-nilai keagamaan. Berdasarkan penelitian singkat dan ala kadarnya yang saya lakukan, ada beberapa persen (tidak perlu saya sebutkanlah ya hehe) peserta didik yang melakukannya, baik dijam istirahat atau menjelang pulang. Tentu di benak kita muncul pertanyaan, bagaimana caranya agar masalah tersebut teratasi?
Menurut hemat saya, langkah yang dapat dilakukan adalah, pertama, memberikan teguran dan pengarahan kepada Si Pelaku tepe-tepe, tidak harus guru juga yang menegur, kita sebagai teman bisa saja melakukannya, apalagi teman akrab, pastinya akan lebih menancap di hati. Kedua, memberikan sanksi yang bersifat mendidik, misal: peserta didik yang ketangkap basah tepe-tepe diberikan sanksi membaca 1 buku yang nanti--setelah selesai membaca-- ia diminta menjelaskan apa yang telah dibacanya.
Dengan demikian, usaha tersebut setidaknya dapat mengurangi. Jangan pernah berpikir kalau tepe-tepe itu hal yang sepele dan wajar lho ya, tepe-tepe yang berlebihan akan memengaruhi niat kita dalam belajar. Mari kita renungkan nasihat Ki Hajar Dewantara:
"Apapun yang dilakukan oleh seseorang itu, hendaknya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, bermanfaat bagi bangsanya, dan bermanfaat bagi manusia di dunia pada umumnya".
Kholimatus Sa'adah Tri Sayekti, kelas XI J
