BERITA MADRASAH

Sastra di Antara Dinding-Dinding Kelas

Dipublikasikan pada 15 November 2022 oleh Administrator

1475 Pembaca Kabar Terbaru
Beranda > Berita & Artikel > Sastra di Antara Dinding-Dinding Ke...
Sastra di Antara Dinding-Dinding Kelas
Berita 15 November 2022 Oleh: Administrator 1475 Pembaca

Sastra di Antara Dinding-Dinding Kelas

Oleh: Iqlima Ailisa N K

Sastra dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta yang merupakan bagian dari kata sas, berarti mengarahkan, mengajarkan, dan memberi petunjuk. Kata sastra tersebut mendapat akhiran tra yang biasanya digunakan untuk menunjukkan alat atau sarana sehingga kata lain yang juga diambil dari bahasa Sansekerta adalah kata pustaka yang secara luas berarti buku (Teeuw, 1984: 22-23).

Salah satu materi yang terdapat pada mata pelajaran bahasa Indonesia adalah sastra. Porsinya yang lebih sedikit, membuat kembang tumbuh sastra di hati peserta didik tidak merata dengan baik. Hal tersebut menjadi problematika sastra dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Apakah sastra merupakan hal vital bagi peserta didik? Jawabannya, iya. Sehubungan dengan nilai-nilai dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa yang mulai diberlakukan Diknas mulai tahun pelajaran 2011, pembelajaran sastra dianggap penting karena pembelajaran sastra dapat membantu pembentukan watak. Ketika berkontemplasi pada realita pembelajaran di kelas, sastra hanya mendapat ruang bernapas pada beberapa peserta didik saja. Sisanya masih bertanya-tanya, apa manfaatnya menyelami sastra? Saat ini memang masyarakat Indonesia cenderung memprioritaskan untuk mempersiapkan diri menjadi masyarakat industri.

Pengajaran sastra pada dasarnya mengemban misi efektif, yaitu memperkaya pengalaman siswa dan menjadikannya lebih tanggap terhadap peristiwa-peristiwa di sekelilingnya. Tujuan akhirnya adalah menanam, menumbuhkan, dan mengembangkan kepekaan terhadap masalah-masalah manusiawi, pengenalan dan rasa hormatnya terhadap tata nilai, baik dalam konteks individual, maupun sosial (Oemarjati, 1992).

Beberapa karya sastra, berisi tentang motivasi hidup yang dapat menstimulasi para peserta didik agar dapat mengikuti hal-hal positif yang terdapat pada sebuah karya sastra. Selain itu, sastra dapat membantu peserta didik dalam meningkatkan kosakata bahasa. Perbendaharaan lema sangat diperlukan untuk menunjang keterampilan berbicara maupun menulis karena kedua hal tersebut sangat berkaitan dalam kehidupan sehari-hari. Adanya pembelajaran sastra dapat pula membantu peserta didik dalam melatih interpretasi baik secara lisan maupun tulis. Hal tersebut berkaitan dengan proses berpikir kritis dalam memberikan kesan dan pandangan terhadap suatu permasalahan.

Keberadaan sastra terintegrasi dengan pembelajaran bahasa, yaitu mencakup keterampilan menulis, membaca, menyimak, dan berbicara. Output yang diharapkan adalah peserta didik dapat memahami hakikat sastra dengan baik. Namun, tidak selesai sampai di situ saja. Hal penting lainnya adalah outcome setelah mempelajari sastra. Yaitu bagaimana peserta didik dapat mengapresiasi, menganalisis, dan memproduksi karya sastra.

Problematika-problematika yang dijumpai oleh para pendidik memang membutuhkan sebuah solusi. Tidak mudah memang, tetapi jangan sampai berjalan mundur untuk memberikan dorongan positif bagi para peserta didik. Tidak masalah jika harus memberikan penjelasan secara repetitif terkait apa saja manfaat yang didapat dan seberapa pentingnya belajar sastra. Paradigma bahwa sastra tidak begitu banyak memberikan kontribusi harus diubah, karena pada dasarnya sastra memiliki peran yang cukup penting pada kehidupan manusia.

Melalui sastra, kita dapat mengenal suatu kebudayaan. Contohnya pada sebuah karya sastra novel, biasanya disisipkan kebudayaan yang menjadi ciri khas suatu daerah. Penulis akan memberikan deskripsi tentang budaya yang berkaitan dengan kisah yang ditulis. Bahkan bukan hanya kebudayaan Indonesia, tapi juga budaya negara lain. Mengenal dan menyelami sastra diharapkan tidak tersekat di kelas saja, tapi juga didapatkan di luar sekolahan. Banyak karya sastra yang dapat dipelajari dan diambil makna tersirat maupun tersuratnya secara mandiri.

Kondisi di kelas yang cukup menjadi perhatian adalah banyak dari peserta didik yang tidak mengetahui dan mengenal sastrawan Indonesia. Peserta didik cenderung merasa asing ketika mendengar nama-nama sastrawan yang disebutkan oleh pendidik atau nama sastrawan yang terdapat pada buku bahasa Indonesia. Antusias peserta didik untuk mengetahui siapa “penyair” atau “penulis” tersebut sangat rendah. Cukup memprihatinkan, tapi kondisi yang demikian tidak boleh dilestarikan. Pendidik tidak boleh bosan untuk memperkenalkan sastrawan Indonesia kepada peserta didik.

Tugas yang membutuhkan sebuah jawaban terkait problematika pengajaran sastra memang cukup banyak. Perlu adanya langkah kecil untuk menjemput suatu hal yang besar. Peran pendidik dan peserta didik dibutuhkan demi mewujudkan tujuan yang diinginkan dan diangankan. Agar apa yang menjadi persoalan dapat lekas menemukan jalan penyelesaian. Selain itu, peran dari lingkungan sekitar juga dapat membantu ketercapaian suatu tujuan. Itulah mengapa perlu adanya keterlibatan antara beberapa pihak secara berkesinambungan.

DAFTAR PUSTAKA

A, Teeuw. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.

Oemarjati, Boen S. 1992. Dengan Sastra Mencerdaskan Siswa: Memperkaya Pengalaman Pengetahuan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan

 

Iqlima Ailisa N K, lahir di Pati dan masih belajar menjadi pengampu yang baik untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Bagikan Artikel: